Selasa, 13 Mei 2014

Latihan Senyum



Aku masuk kelas. Kusimpan tas di bangku paling depan, kutarik satu bangku dari belakang agar berada di sampingku, untuk teman baikku. Lalu aku duduk di sana, di bangku yang ada tas akunya. Aku keluarkan buku dan alat tulis lainnya, kalau tidak kukeluarkan, aku mana bisa nulis.
Aku masih menunduk, berkutat dengan alat tulisku. Namun aku merasakan ada sepasang mata yang menatap ke arahku. Kukerlingkan mataku ke arah tersebut, dan benar saja. Kudapati matanya yang terhalang kacamata itu sedang menatapku. Tertangkap basah kau, Tuan. Kulempar saja ia dengan sebuah senyum, dan ia melempar balik, untung lemparannya tidak membuat mukaku bonyok. Tapi hatiku yang lebam.

Oh, Tuhaaaan! Mengapa? Mengapa kami malah saling melempari diri dengan senyum? 

Hari-hari dan jam-jam sebelumnya, aku sering pergi ke toilet. Toilet wanita tentunya. Eh, apa aku wanita? Aku juga ragu. Secara tampilan sih iya wanita. Ya sudahlah. Setiap aku mendaki tangga gedung perkuliahan, setelah aku sampai di lantai tujuan, sebelum masuk kelas, aku pasi belok dan nyangkut di toilet. Di sana ada cermin, cermin ajaib mungkin. Karena di cermin itu, aku dan teman-temanku suka merasa lebih cantik. Entahlah.

Aku mematut wajah dan tubuhku di cermin ajaib tapi tidak bisa bicara itu. Kurapikan pakaian dan kerudungku. Sesekali kutersenyum. Manis sih, kukira. Bisa untuk pengganti gula pasir di kostan.
Aku masih mematut wajahku di cermin. Ah, cermin ini membuatku betah berlama-lama di hadapannya. Kutersenyum lagi. Pipiku tergeser ke samping, sedikit melebar. Eh, ini pipi apa bantal? Oh, mungkin kasur. Kau bisa tidur di situ. Ya, nampaknya seperti kasur, kasur kapuk dengan lesung pipit sebagai jahitan yang membuatnya terceruk. Oooh, Tuhan, cantik itu apa? Hidung mancung atau bangir? Bibir menggoda? Mata yang belo? Hidungku tidak mancung, bibirku biasa saja, mataku juga biasa. Jika cantik adalah itu semua, maka aku tidak cantik. Tapi tetap, banyak orang berkata bahwa aku cantik. Ya, mungkin karena aku perempuan. Kalau aku laki-laki, aku mungkin akan ganteng.

Aku senyum lagi, lagi dan lagi. Di hadapan cermin itu aku selalu tersenyum berkali-kali. Sampai-sampai ketika kawanku yang juga bercermin sudah mau meninggalkan toilet, aku masih bercermin. “Ayo!” dia mengajakku meninggalkan toilet. “Duluan aja, aku lagi latihan senyum.” Kataku. “Ya ampuuuun,” katanya sambil geleng-geleng kepala. Ya, entahlah. Satu yang ada di pikiranku: syukur. Oh Tuhan, terima kasih sudah memberiku cantik. 

Ya, aku jadi sering latihan tersenyum. Berkata di depan cermin. Berlagak sedang berbicara dengan seseorang. Seseorang yang sedang menghantuiku akhir-akhir ini. 

1 Maret 2014

Dari Jaket ke Mangkok Soto


Sore. Pulang kuliah. Sepuluh menit lagi Maghrib. Aku lapar juga lelah. Ya, namanya juga kuliah. Jangan mengeluh, ya? Iya.

Saat adzan berkumandang, berwudhulah aku, lalu salat magrib. Tiga rakaat, jangan lebih, jangan juga kurang. Aku lupa, sesudah itu aku ngaji tidak ya? Ya sudahlah, anggap saja aku lupa, jadi tidak ngaji, jadi tidak riya. Kemudian aku pakai jaket. Jaket apa sweater ya yang benar? Ya itulah pokoknya. Soalnya sore itu aku pakai baju piyama, masa mau keluar kostan pake piyama? Yang lain juga suka begitu sih, piyama party di jalanan. Ya, maka aku menutupi sebagian piyamaku dengan jaket itu. Jaket dengan merk Peter Says Denim, clothing/distro Bandung, not made in China. Cinta produk lokal-lah. Lagipula itu bukan sweaterku. Itu sweater mantan pacarku, si Ojan. Waktu itu, waktu nyaris putus, aku bilang ke dia lewat sms: “Ini jaketmu ada di aku.” Maksudnya kusuruh dia ambil ini jaket, di kostanku juga hanya memenuhi ruangan dan kalau digantung malah jadi pos kamlingnya nyamuk-nyamuk. Tapi dia malah balas: “Aku gak butuh jaket, aku butuhnya kamu.” Nyekilnya bisaan memang cowok satu ini. 

Ya, kupakai jaketnya yang longgar itu. Tanganku saja sampai tak nampak, tertelan jaketnya yang longgar. Dia gemuk sih. Aku menuruni Jalan Desa Cipadung, menuju ke pinggir jalan raya, mau beli soto. Dulu aku makan soto di sana dengan dia. Sekarang tidak, kan sudah putus.
Tiba-tiba aku serasa menjadi seorang ‘aku’ dalam sinetron-sinetron melankoli. Jalan di malam hari, sendiri, dengan tatapan kosong, perut yang lapar... ah, cukup dramatisasinya! Ini cerita sudah ku-forward faster. Tibalah aku di warung soto. Di sana, ada sepasang merpati sedang menunggu soto disajikan. Oh Tuhaaaan, kapan aku jadi merpati lagi? Ah, kini aku hanya si pungguk yang merindukan bulan di mangkok soto.

2 Maret 2014

Minggu, 16 Maret 2014

SAWAH

“Aku suka kota ini,” katamu. “Sawah, hijau membentang.”

Entahlah akan
jadi apa kota ini beberapa tahun ke depan
: mungkin sawah
  berubah menjadi perumahan mewah,
  pematang
  menjadi jalan raya yang merindu lengang

Padi, di mana
akan ada padi jika sawah tak ada?
Pandan wangi kelak hanya akan tinggal nama

Mereka mungkin takkan makan nasi,
Mereka menggerogoti batu-batu dari bukit-bukit tinggi
Menelannya dalam perut yang membuncit,
 menjelma dalam kepala mereka. Kepala batu.

“Entahlah,” katamu,
“yang kutahu kau adalah sawah tempatku bertani,
dan lesung pipimu,
tempatku menumbuk padi
untuk menjadi nasi.”

15 Maret 2014            21:50

Rembulan di Mataku


Sebagai rembulan, wajahmu tercermin di bola mataku[1]. Senyum itu, senyum yang takkan pernah aku miliki, masih terus menggenangi mataku. Malam menyisakan ruang untuk kita bertemu, walau bertemu hanya lewat kata-kata.
“Percakapan ini  seperti mengandung kafein.” Kau selalu menahanku untuk tertidur sebelum jam 12 malam.
“Karena itulah, percakapan kita selalu memiliki zat adiktif, yang membuahkan ketagihan.”
“Sekaligus berbahaya jika terus dilakukan.”
“Berbahaya jika dikonsumsi setiap detik, setiap menit dan setiap jam. Bila dikonsumsi secara tepat, akan menguatkan lambung.”
“Setiap hari pun berbahaya, kukira. Sudah tepat? Kekuatan lambung orang berbeda-beda.”
“Tidak berbahaya jika tanpa gula.”
“Maka, aku akan menjadi kopi, tanpa gula.”
“Ya, dan aku akan menjelma gula alami, yang tetap menyehatkan ketika dicampur dengan kopi yang pahit. Agar dunia tetap seimbang.”
Nampaknya kau tak mengerti maksud pembicaraanku, aku akan menjadi kopi tanpa gula. Aku takkan bermanis-manis lagi kepadamu. Aku takkan senyum kepadamu lagi. Itu yang kumaksud, tapi kau menangkapnya berbeda. Tapi percuma mengungkapkan maksudku, itu sama saja aku mendebatmu, dan aku pasti akan kalah. Kau lebih berpengalaman dariku, sudah mengetahui banyak hal dibanding aku, di situ, aku akan kalah.
“Kelanjutan analogi kopi-gula ini tak bisa kuteruskan di sini. Cukup kuteruskan sendiri.”
“Ya, dan aku pun punya terusannya, sendiri. Tak ada seorang pun yang bisa menolak, jika suatu waktu, tiba-tiba dua terusan cerita dan analogi kopi-gula yang berbeda itu bertemu di satu persimpangan.... yang  mengharuskan mereka untuk bersatu.”
“.....”
“karena jalan yang harus dilalui setelah simpangan itu, terlalu terjal dan berliku, jika hanya kopi yang melalui, atau jika hanya gula yang melewati... kopi senang bertemu gula (lagi) karena kopi akhirnya sadar, perlu gula yang memaniskan hidup dan gula pun senang bertemu kopi (lagi) karena gula juga sadar, harus ada yang pahit untuk membuat dirinya disebut manis.”
“Malam telah larut. Seperti aku yang larut dalam air panas di cangkir yang dingin. Yang membuatku tiada. Aku harus larut bersama malam. Daaah..”
“Aku juga sebentar lagi... akan larut dalam malammu.”
“Takkan bisa.”
“Pasti bisa. Karena gula akan selalu larut dalam air apapun. Apalagi malam, dimana gula akan selalu disebar dan dilarutkan untuk memaniskan mimpi..”
“Tapi untukku tak bisa. Dan mimpi tidak semanis itu.”
“Pasti bisa. Karena mimpi yang tak manis pun, bukan berarti tanpa gula, itu semata-mata untuk memastikan bahwa mimpi yang kelewat manis hanya impian kosong.”
Kau terus bersikeras dengan pendirianmu. Inilah salah satu yang membuatku malas untuk berdebat. Aku pasti kalah. Bagaimanapun. Karena aku tak punya banyak pengalaman untuk mendebatmu. Berdebat denganmu membuatku sakit kepala.
“Ya, kosong.” Jawabku.
“Maka dari itu, mimpi terkadang tak semanis yang diharapkan. Dan sekali lagi itu bukan berarti tanpa gula.”
Aku kehabisan kata untuk mendebatmu.
“Ah, diabetes lama-lama. Gula dan janji sama-sama manis.”
“Diabetes itu bukan berarti tidak boleh mengonsumsi gula. Karena gula sebetulnya sudah ada dimana-mana. Nasi mengandung gula, jagung mengandung gula, kelapa mengandung gula, dan lain-lain.”
“Iya, aku tahu. Aku hanya terlalu penat untuk berpikir malam ini. Sakit kepala.”
“Oleh karena itu tidurlah. Larutlah dalam malammu segera, agar aku juga bisa larut dalam malammu. Sesegera mungkin.”
Dan kau, tidak larut dalam malamku. Semalam.
***
Malam selalu menyisakan ruang untuk kita bercakap-cakap melalui dunia maya.Semaya dirimu.
“Foto profilmu cantik. Seperti Arab-India gitu.” Kau mengomentari foto profilku ketika kukenakan pakaian kebaya saat wisuda. Aku senang kau bilang cantik.
“Apa yang kau maksudkan dengan cantik?”
“Pertanyaan yang tidak sesederhana jawabannya. Hehe..”
“Jadi? Hihi..”
“Cantik adalah sebuah kata sifat yang terdiri atas C A N T I K dan digunakan untuk menjelaskan kekaguman atas sesuatu hal yang berhubungan dengan keindahan. Biasanya keindahan itu ada dalam diri perempuan.”
“Aku jadi ingat percakapan Minke dan Robert dalam Bumi Manusia.“Apa yang kau maksudkan dengan cantik?” “Apa? Kau kan sendiri sudah rumuskan? Letak dan bentuk tulang yang tepat, diikat oleh lapisan daging yang tepat pula.”
“Percakapan Minke dan Robert Suurhof ketika mendeskripsikan Annelies Mellema? Itu definisi yang terlalu fisikal, Ka.”
“Justru kukira itu definisiyang netral. Semua bisa jadi cantik.”
“Kata sifat tidak ada yang netral.” Katamu.
Aku mulai susah menggunakan kata-kata untuk menjelaskan pemahamanku tentang itu.
“Aduh, bagaimana ya, aku susah menjelaskannya. Jadi, cantik itu tidak harus hidung mancung, mata indah, atau yang lainnya.” Kukira.
“Tuh kan, kau sendiri susah menjelaskannya. Justru yang dimaksudkan bentuk tulang yang tepat itu ya tulang hidung yang mancung dibalut kulit yang tepat. Kulit yang putih atau kuning langsat.”
Aku kehabisan kata. Jadi, itu yang dimaksudkan cantik dalam Percakapan Minke dan Robert Suurhof? Yang kudapat, pemikiranku tentang itu, justru Tuhan telah memberikan tulang dan kulit yang tepat kepada semua makhluknya, itu sudah kadarnya. Tapi pemahamanku itu sulit kukemukakan kepadamu, aku sulit menyusun kata-kata. Terbukti kan? Berdebat denganmu membuatku kalah, membuatku sedikit minder. Ya, aku kalah.
“Oh, begitu. Berarti aku salah memahami definisi cantik dalam bumi Manusia itu.”
“Aku punya ungkapan yang mungkin itu diriku sendiri, dan aku mengutipnya dari sebuah cerpen.”
“Ungkapan apa? Jangan-jangan kau narsis sendiri dengan ungkapan itu? Hehe..”
“Bukan kok. Hehe.. “Aku tidak akan tertarik kepada bidadari yang dungu.”
“Jadi? Apa maksud dari kutipan itu?”
“Kau bisa menfsirkannya sendiri.”
“Aku takut salah menafsirkan lagi. Jadi aku dungu?”
“Justru sebaliknya. Kamu tidak dungu. Jadi aku tertarik. Hehe “
Tuhan, apa yang aku dapati sekarang? Dia bilang dia tertarik kepadaku? Mana mungkin. Mana bisa. Dia sudah dengan yang lain. Sadar Tika! Sadaaaar!!
“Ah, tapi aku sudah merasa dungu dengan ketidaktepatan menafsirkan definisi cantik dari Bumi Manusia itu. Hiks.”
“Tidak, kau tidak dungu. Yang begitu itu bukan dungu, tapi penasaran. Penasaran atas keyakinan diri. Yang dungu itu justru yang tidak punya keyakinan diri.”
“Aku tidak mengerti.” Aku merasa dungu. “Keyakinanku apa? (Yang kautangkap)”
“Nanti juga kau mengerti, kok.”
“Tuh kan, aku tidak mengerti, merasa dungu nih.”
“Keyakinan akan penafsiran kamu terhadap definisi itu. Kamu yakin, dan itu bagus. Ah, jadi gak seru ah. Kamu-nya merendah begitu : (“
“Yakin tapi tidak tepat. Bertahan dengan penafsiran yang salah:( sedihhh. Iya iya, aku meninggi deh..”
“Jangan merendah. Kayak tadi dong. Siapa bilang juga penafsiranku tepat? Bisa jadi tidak. Hanya aku yakinkan saja begitu.”
“aku yang menganggapnya begitu.”
“dan ketika kamu menganggapnya begitu, berarti kamu tidak dungu, karena paham apa yang aku terangkan.”
“Cukup, kau tidak perlu membesarkan hatiku lagi. (Ini lebay) hehe..” aku sedikit becanda, agar tidak terlalu kaku.
Ya, memang tidak ada benar dan salah dalam sastra. Yang ada hanya ngacau.
***
Selain malam yang selalu menyisakan ruang untuk kita bercakap-cakap lewat dunia maya, siang pun masih bersedia menyediakan sudut tempat kita beradu mata, lalu bertukar senyum.
Kau muncul dari kerumunan mahasiswa yang berlalu lalang.Kau muncul dari lantai bawah, menaiki tangga.
Di sini, ada aku yang menunggumu. Kita bertemu di persimpangan rindu.
Mata kita beradu, lalu kita bertukar senyum. Senyummu yang takkan bisa kumiliki, selamanya.
Mungkin hanya tiga detik.
: detik pertama kita beradu mata,
  detik kedua kita bertukar senyum,
  detik ketiga kita pergi ke arah yang berbeda.

Sebagai rembulan kau tercermin di bola mataku,
bola mata si pungguk.

Source: www.forwallpaper.com


[1] Penggalan sajak, baris pertama, dari Wening Wahyuningsih “Sepucuk Pesan Buat Rembulan”. Sajak Kakilangit 131/2007, Majalah Horison.

Jumat, 07 Februari 2014

CANTIK? SEMUA WANITA BEGITU.



Cantik. Suatu hari aku mencoba jadi wanita cantik. Tepatnya saat kelulusan Aliyah-ku (sederajat SMA) –belum dinyatakan lulus sih, tapi ya udah kelulusan duluan, biar semua siswa hadir, walaupun nantinya ada yang enggak lulus.

Pagi itu, 10 Mei 2012, aku pergi ke salon, diantar mama pakai mobil sedan ford jaman dulu warna hijau ulet pisang. Aku pakai celana, baju, dan kerudung, seadanya banget. Gak dandan deh kalo gak salah. (berarti benar!)
Sesampainya di salon, di sana sudah ada beberapa teman satu sekolah, berdandan di sana juga. Kamu tau? Waktu itu aku ditunjuk jadi pengantin di kelasku (IPA 4). Hohoo.. dan dipasangkan dengan cowok yang namanya Ganjar Purnama <3 

Saat didandani, aku duduk di depan cermin dan meja rias. Wajahku disemprot-semprot sama si ibu salonnya. Serasa jadi burung dalam sangkar yang disemprot-semprot air oleh empunya-nya. “Sprot sprot sprot!” air nyiprat-nyiprat di muka. Sabar-sabar! Untuk jadi cantik ribet banget!
Teman-temanku yang lain (ada empat orang lebih) mereka pas didandani ketawa-ketawa ngakak, berisik, sedangkan aku kalem-kalem aja, diem, gak banyak ngomong. Lagian mau ngomong apa dan sama siapa coba? Dan si ibu salonnya bilang “Meni rariweuh. Siga ieu (aku) atuh kalem jadi awewe teh, seuri-seuri we.” (buat yang gak ngerti bahasa itu, ini artinya: “Heboh banget. Kayak ini (aku) dong, kalem jadi cewek tuh, cuman senyum-senyum aja.” Dan memang pada saat itu aku memang pendiam, talkless, anggun gitu lah, sekarang juga masih sih. Huaahahahaaa (mungkin kau takkan percaya ini.)

Setelah disemprot, wajahku diolesi pelembab gitu deh. “Oles oles oles!” kali ini serasa roti dipakein selai. Sesudah rata, mukaku yang cantik berlebihan (tapi gak ada yang nyadar) ini dipoles pakai bedak. “Poles poles poles!” setelah itu dipakein make up yang lainnya, blush on, eyelashes, bulu mata, alisku dipakein pinsil alis, pakai lipstik. Pokoknya gitu deh, sampai akhirnya mukaku begitu adanya.

Setelah itu, aku pakai baju kebaya boleh nyewa di salon itu. (Nyewanya tau gak berapa? Sejuta kurang lah, sejuta kurang sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan rupiah. Ini gak penting sih.) Kebaya spesial dong secara diutus jadi pengantin. Waktu itu gue berharap jadi pengantin beneran *tepok jidat*. Eh jangan ditepok, ntar make up-ku rusak. Mamahku ribet bangettt, nyuruh sang mempelai pria dateng ke salon buat nyamain pakaian. Yak elaaaah. Malu gue! Tapi akhirnya si pengantin pria pake bajunya sendiri, gak tau dari mana deh.

Sekali kupilih selendang (kain bawahan), namun sempit, aku gemuk :3. Dan sekali lagi aku dapatkan bawahan yang pas, motif batik-batik gitu. Aaaa unyu. Aku cinta Indonesia <3. Jujur sih tadinya kalo aku perpisahan sekolah pengen punya baju pengantin sendiri, biar pas jadi pengantin beneran pake baju itu juga. Yak elaaahhh..!! jodohnya aja manaaaa?? Lahir apa belum jodoh guee? Apa udah keburu dicharter atau bahkan diambil orang? Tapi aku percaya, ada seorang jodoh untukku. Sejelek-jeleknya sendal jepit aja ada pasangannya kan? haha

Singkat cerita, beres sudah pake daleman, kain bawahan, kebaya dan kerudung. Dress-ku bernuansa kuning keemasan dengan sedikit sentuhan ungu. Tak lupa, kerudung yang sudah melekat dikepala dihias sedemikian rupa. Dipakein perhiasan gitu, semacam kalung tapi nemplok di kepala. Pake kain panjang juga, ditancebin pake jarum-jarum di kepala. Tapi aku bukan kuntilanak! Dan menjuntai sebuah kalung di leherku, kancing-kancing perhiasan juga ditempel di baju. Di jidat aku nempel permata gitu. Ye elaaah, mau syuting India kali nih -__- dan tadinya malah mau dipakein cincin blink-blink segede keong. Rempong bangettt dehh! Tapi ogah ah pake cincin gitu. Pada dasarnya aku adalah wanita sederhana B-) haha hoeeekk >,<
Tadaaaaaaaaa!! Inilah akuuuuu!!
Macho!
Inilah aku, seorang rempong dalam sehari. Gak apa-apalah yaa. Jarang-jarang rempong.
Liat kan, di jidat nemplok permata gitu. Ini tuh lagi makan bubur, sarapan pagi. Disuruh mamahku tercinta <3 harus makan dulu, kalo gak makan entar bisa pingsan. Ini mamahku juga yang motoin. Dan dia sempat negur, “Dandan udah cantik, gaya duduk maco gitu -_-“ haha baae atuh maaaah.







Yang ini anggunan dikit nih... duduknya.

Yaa setelah selesai dandan jadi wanita cantik, capcus deh masuk mobil. Tak lupa pake sepatu tinggi, Cuma 5 cm sih. Gak kuat lah kalo tinggi-tinggi banget.
Di perjalanan, aku mulai merasakan kerempogan. Ini muka serasa kayak tembok yang disemen! Oh God! Bibirku pun yang berpoles lipstik serasa jadi bibir merah dari seorang badut. Huaaa...!! kupindahkan sedikit lipstik dari bibirku itu ke selembar tisu. Muaaach :* beruntungnyaaa jadi tisu, dicium si Gemi, haha
Dan kamu tau? Kawanku, Muthiatul Fithri Nurkarimah pun mendatangiku lewat sms, dia pun sama! Maki-maki make up-nya. Haha .. Kami cewek-cewek sederhana mana tahan dandan dengan semen di muka. Haha

 You know what? Ini permata di jidat ganggu bangetttt. Akhirnya kucopotlah ia. Tanpanya aku malah merasa lebih cantik ;;) *winking*. Liat kan, muka gue gede bangettt, chubby coy! Haha


Inilah kawanku itu, Muthiatul Fithri. Cantik kan dia? Apalagi dengan semen di muka kami. Haha



Yang ini Indah Ayu ‘Komeng’ Fitriany, kawan dekatku juga. Kawanku menggila <3 Ningsih <3 Komeng.
Yang ini aku berfoto dengan Nureani a.k.a Nabilah-nya qaqaq @salmansikribo. Huuhuu .. this is for you, qaqaaaq.

Ini dengan kawanku yang gila, Tri Aditya ‘Yoko Curut’. Kawanku menggila juga, haha.. ini ku beri dia hkado, dan dia pun begitu. Kami barter kenang-kenangan B-) by the way, I look so chubby, fat exactly. Tapi kagak ngapa-ngapa. B-)

And this is my beloved super mother <3 kami sering dibilang adik-kakak. Semoga ibuku yang terlihat muda, bukan aku yang terlihat tua. Haha (Sebenernya foto yg untuk di blog bukan yang ini, aku lupa gak dimasukin ke flashdisk nih. soon, I'll fix it. You still beautiful and best for me, Mom :*


Tadaaaaaa...!! This was sensational at that time! Ini dia pengantinku <3 *pacarnya Ganjar dilarang keras untuk marah! Aku gak cinta dia (lagi) kok. Haha.. canda coy*

Ini saat aku berfoto dengan salah satu guruku yang paling lucu, kocak, bodor kalau mengajar, Bapak Rahmat, guru IPA. Dulu mengajariku Kimia <3 terima kasih telah menjadi guruku, Pak :-D



Setelah selesai acara perpisahan dan para hadirin sudah bubar, aku pun ikut bubar, padahal masih betah tampil cantik. (Loh? Haha) waktu sudah menunjukan jam 2 siang waktu itu, dan aku belum salat dzuhur, OMAYGAD

Kuganti baju pengantin di dalam mobil, semoga gak ada yang ngintipin, dan memang kayaknya gak ada sih. Syukur! Tapi make up masih menempel tebal di mukaku yang cantik tak tertolong ini. Aku lupa tidak bawa facial foam lagi, aku sms lah mamah, kutanya apa dia bawa sabun pencuci muka, dan dia malah jawab “Beli aja sunlight™!” Yak elaaaah mamaaaah, mukaku ini pantat penggorengan apa???

Ya kuhapus lah ini make up sebisaku, dengan air. Dan mamah pun bilang, “Allah maha tau, yang penting kita niat salat (walaupun make up belum bersih semua)”. Ya aku salatlah saat itu. (Ya ampun, riya kah ini kubilang bahwa aku salat? Semoga tidak!) 

Setelah salat, pergilah aku bersama mamah ke sebuah mall, untuk sekedar makan Mie Ayam Stekmal, ke Hypermart. (Harusnya pihak yang disebut barusan membayarku karena aku secara tidak langsung telah meng-iklankan meraka: Mie Ayam Stekmal dan Hypermart). Kurang lebih 5 menit perjalanan (dr Gedung As-Sakinah, tempat resepsi kelulusan, ke Hypermat) dengan kecepatan 20 km/jam, bahkan bisa satu menit saja kalo pake kecepatan 100 km/jam. Kalo naik semut sih bisa sebulan lamanya, itupun kalo semutnya gak mati. *ini apaaaaaann?? Ngasal*
Mau tau mukaku tanpa make up? Eh jangan deh, ntar kamu naksir.
Eh tapi terlanjur aku masukin :/ yaudah deh, ini nih.... Tadaaaaa!!!



Itulah, fotoku tanpa make up dengan berlatarkan Hypermart Cianjur. Aku cinta Cianjur <3 cinta kamu juga <3<3.

tatatata tadaaaaa!!!! Ini muka-muka udah kayak badut ih. ya ampuuun. kami lebih cantik dengan wajah alami!
Nah...  eh kenapa aku cerita gak karuan begini? Yaudahlah yaaa, terlanjur aku ketik, dan kamu pun pasti terlanjur membaca. Aku minta maaf ya sudah menjebakmu, kamu jadi baca tulisan ini. Jangan marah!
Jadi intinya aku cantik gak? Cantiklah ya biar cepet beres baca tulisan ini.
Intinya setiap wanita cantik dengan gayanya sendiri. Kalo kata D’Masiv sih cantiklah seNATURAL mungkin. ;;)
Aku pamit dulu yaaa ;-) SPREAD LOVE AND PEACE OUT!! Sebarkan cinta dan hidup damai! <3

Salam sayang dan damai,

Gemi A. Sumitra

Heya!! :D It's me ..

Foto saya
Cianjur, Jawa Barat, Indonesia
I'm the type of an ordinary girl that has unique character. Quiet enough, not too noisy, sometimes moody, and I just speak proporsionally .. Love Ya :*