Aku masuk kelas. Kusimpan tas di bangku paling depan,
kutarik satu bangku dari belakang agar berada di sampingku, untuk teman baikku.
Lalu aku duduk di sana, di bangku yang ada tas akunya. Aku keluarkan buku dan
alat tulis lainnya, kalau tidak kukeluarkan, aku mana bisa nulis.
Aku masih menunduk, berkutat dengan alat tulisku. Namun aku
merasakan ada sepasang mata yang menatap ke arahku. Kukerlingkan mataku ke arah
tersebut, dan benar saja. Kudapati matanya yang terhalang kacamata itu sedang
menatapku. Tertangkap basah kau, Tuan. Kulempar saja ia dengan sebuah senyum,
dan ia melempar balik, untung lemparannya tidak membuat mukaku bonyok. Tapi
hatiku yang lebam.
Oh, Tuhaaaan! Mengapa? Mengapa kami malah saling melempari
diri dengan senyum?
Hari-hari dan jam-jam sebelumnya, aku sering pergi ke
toilet. Toilet wanita tentunya. Eh, apa aku wanita? Aku juga ragu. Secara
tampilan sih iya wanita. Ya sudahlah. Setiap aku mendaki tangga gedung
perkuliahan, setelah aku sampai di lantai tujuan, sebelum masuk kelas, aku pasi
belok dan nyangkut di toilet. Di sana ada cermin, cermin ajaib mungkin. Karena
di cermin itu, aku dan teman-temanku suka merasa lebih cantik. Entahlah.
Aku mematut wajah dan tubuhku di cermin ajaib tapi tidak
bisa bicara itu. Kurapikan pakaian dan kerudungku. Sesekali kutersenyum. Manis
sih, kukira. Bisa untuk pengganti gula pasir di kostan.
Aku masih mematut wajahku di cermin. Ah, cermin ini
membuatku betah berlama-lama di hadapannya. Kutersenyum lagi. Pipiku tergeser
ke samping, sedikit melebar. Eh, ini pipi apa bantal? Oh, mungkin kasur. Kau
bisa tidur di situ. Ya, nampaknya seperti kasur, kasur kapuk dengan lesung
pipit sebagai jahitan yang membuatnya terceruk. Oooh, Tuhan, cantik itu apa?
Hidung mancung atau bangir? Bibir menggoda? Mata yang belo? Hidungku tidak
mancung, bibirku biasa saja, mataku juga biasa. Jika cantik adalah itu semua,
maka aku tidak cantik. Tapi tetap, banyak orang berkata bahwa aku cantik. Ya,
mungkin karena aku perempuan. Kalau aku laki-laki, aku mungkin akan ganteng.
Aku senyum lagi, lagi dan lagi. Di hadapan cermin itu aku
selalu tersenyum berkali-kali. Sampai-sampai ketika kawanku yang juga bercermin
sudah mau meninggalkan toilet, aku masih bercermin. “Ayo!” dia mengajakku
meninggalkan toilet. “Duluan aja, aku lagi latihan senyum.” Kataku. “Ya
ampuuuun,” katanya sambil geleng-geleng kepala. Ya, entahlah. Satu yang ada di
pikiranku: syukur. Oh Tuhan, terima kasih sudah memberiku cantik.
Ya, aku jadi sering latihan tersenyum. Berkata di depan
cermin. Berlagak sedang berbicara dengan seseorang. Seseorang yang sedang
menghantuiku akhir-akhir ini.
1 Maret 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar