Selasa, 13 Mei 2014

Latihan Senyum



Aku masuk kelas. Kusimpan tas di bangku paling depan, kutarik satu bangku dari belakang agar berada di sampingku, untuk teman baikku. Lalu aku duduk di sana, di bangku yang ada tas akunya. Aku keluarkan buku dan alat tulis lainnya, kalau tidak kukeluarkan, aku mana bisa nulis.
Aku masih menunduk, berkutat dengan alat tulisku. Namun aku merasakan ada sepasang mata yang menatap ke arahku. Kukerlingkan mataku ke arah tersebut, dan benar saja. Kudapati matanya yang terhalang kacamata itu sedang menatapku. Tertangkap basah kau, Tuan. Kulempar saja ia dengan sebuah senyum, dan ia melempar balik, untung lemparannya tidak membuat mukaku bonyok. Tapi hatiku yang lebam.

Oh, Tuhaaaan! Mengapa? Mengapa kami malah saling melempari diri dengan senyum? 

Hari-hari dan jam-jam sebelumnya, aku sering pergi ke toilet. Toilet wanita tentunya. Eh, apa aku wanita? Aku juga ragu. Secara tampilan sih iya wanita. Ya sudahlah. Setiap aku mendaki tangga gedung perkuliahan, setelah aku sampai di lantai tujuan, sebelum masuk kelas, aku pasi belok dan nyangkut di toilet. Di sana ada cermin, cermin ajaib mungkin. Karena di cermin itu, aku dan teman-temanku suka merasa lebih cantik. Entahlah.

Aku mematut wajah dan tubuhku di cermin ajaib tapi tidak bisa bicara itu. Kurapikan pakaian dan kerudungku. Sesekali kutersenyum. Manis sih, kukira. Bisa untuk pengganti gula pasir di kostan.
Aku masih mematut wajahku di cermin. Ah, cermin ini membuatku betah berlama-lama di hadapannya. Kutersenyum lagi. Pipiku tergeser ke samping, sedikit melebar. Eh, ini pipi apa bantal? Oh, mungkin kasur. Kau bisa tidur di situ. Ya, nampaknya seperti kasur, kasur kapuk dengan lesung pipit sebagai jahitan yang membuatnya terceruk. Oooh, Tuhan, cantik itu apa? Hidung mancung atau bangir? Bibir menggoda? Mata yang belo? Hidungku tidak mancung, bibirku biasa saja, mataku juga biasa. Jika cantik adalah itu semua, maka aku tidak cantik. Tapi tetap, banyak orang berkata bahwa aku cantik. Ya, mungkin karena aku perempuan. Kalau aku laki-laki, aku mungkin akan ganteng.

Aku senyum lagi, lagi dan lagi. Di hadapan cermin itu aku selalu tersenyum berkali-kali. Sampai-sampai ketika kawanku yang juga bercermin sudah mau meninggalkan toilet, aku masih bercermin. “Ayo!” dia mengajakku meninggalkan toilet. “Duluan aja, aku lagi latihan senyum.” Kataku. “Ya ampuuuun,” katanya sambil geleng-geleng kepala. Ya, entahlah. Satu yang ada di pikiranku: syukur. Oh Tuhan, terima kasih sudah memberiku cantik. 

Ya, aku jadi sering latihan tersenyum. Berkata di depan cermin. Berlagak sedang berbicara dengan seseorang. Seseorang yang sedang menghantuiku akhir-akhir ini. 

1 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Heya!! :D It's me ..

Foto saya
Cianjur, Jawa Barat, Indonesia
I'm the type of an ordinary girl that has unique character. Quiet enough, not too noisy, sometimes moody, and I just speak proporsionally .. Love Ya :*