Selasa, 30 Oktober 2012

Life is more than Social Media (SocMed)


Saya adalah seseorang yang  memiliki akun Facebook dan Twitter sejak dari tahun 2009, saat saya masih SMP. Di Facebook, dulu tombol “Like” tidak begitu populer, saya pun cenderung bingung dengan fungsi “Like” tersebut. Namun kini, semakin banyak “Like” maka si penulis post (status/foto/video dll) merasa semakin senang, mungkin bangga. Tak jarang ada orang yang men-chat saya hanya untuk meminta agar saya me-like statusnya. Saya juga melihat beberapa yang menulis wall to wall yang sekedar mengatakan TFL dan meminta like balik, atau yang lebih mengganggu adalah komen dalam status yang kurang lebih berbunyi “Saya menyukai status Anda. Mampirlah ke status saya dan like back. SALKOMSEL”. “HADIR menyukai status Anda –saling berbagi itu indah— <<SALKOMSEL>>”. Bukan hanya itu saja, ada komen yang lebih mengesalkan, komen tersebut bisa menghabiskan 500 karakter dan isi dari komen itu adalah nonsense, hanya nyampah. Jika saya membuka facebook dr handphone dan melihat komen sampah itu, maka pegallah jempol saya terus menggeser kursor ke bawah, bahkan jika sudah terlanjur membaca jauh, kembali ke atas pun sama pegalnya. Ada yang lebih tidak masuk akal lagi, yaitu jika si penyuka status tidak mendapat like balik, maka tak jarang orang itu marah, atau malah berkomentar dengan bahasa kasar. Hellooooo??? Life is more than Facebook!!! Pelis laaaah, hidup itu lebih dari Facebook!! Tidak ada hal yang lebih penting lagi ya selain me-like status-status itu? Mending kalau memang statusnya mengisnpirasi, nah kebanyakan statusnya itu malah status yang tidak penting. Dan biasanya saya hanya me-like status yang memang benar-benar saya sukai. Kalau pun ada orang yang meminta like saya dalam statusnya, maka saya tidak begitu menurutinya. Jika dia marah ya silakan, mau me-remove saya pun silakan. Saya tidak peduli dengan teman Facebook macam itu. Jadi intinya, Hidup itu tidak melulu soal Facebook! Tidak melulu soal suka-menyukai status.
            Ada satu lagi social media yang saya cukup aktif di dalamnya, yaitu twitter. Ini pun sama, saya sering melihat beberapa orang pengguna twitter begitu sibuk dengan hashtag #TEAMFOLLOWBACK #FOLLOWBACK yang berkali-kali ditwitkan dan seabreg hashtag lainnya yang membuat timeline serasa penuh sampah. Sekali lagi saya berkata: Helloooo?? Life is more than twitter!! Pelis laaaah!! Hidup itu lebih dari twitter!! Jika followers kita segitu adanya, ya segitu sajalah. Tidak usah memaksakan diri menambah follower, saya pikir ini hal yang melelahkan diri sendiri. Soal follow-memfollow, menurut saya ini soal kepentingan saja. Jika sekiranya kita merasa perlu memfollow sebuah akun dan merasa twitnya berguna bagi kita, maka follow saja. Jika memang kita tidak merasa perlu, ya tidak usah memfollow. As simple as that.
            Bukan hanya itu, twit-twit yang ada di twitter juga cenderung menyebabkan masalah. Terutama saat kita men-twit atau me-retweet sebuah twit, tak jarang menimbulkan kesalahpahaman. Saya rasa Anda pernah mengalaminya kan? Jadi saya rasa saya tidak perlu menjelaskan ataupun memberi contoh.
            Itulah beberapa masalah yang ada di social media yang pernah saya alami. Jika ada yang memiliki pengalaman yang lain, yang mungkin ingin berbagi, maka silakan tambahkan pengalaman Anda di komen J. Kesimpulannya adalah Life is more than Social Media! Hidup itu lebih dari Media Sosial! Hidup bukan melulu tentang twitter, facebook dan yang lainnya. Yang lebih penting adalah sosialisasi kita di kehidupan nyata. Sekian, semoga bermanfaat, terima kasih J
Facebook      : Gemi A. Sumitra
Twitter          : @GemiaMia
15:00 //301012//

Esensi dari Mahasiswa adalah Tugas, Berkutat dengan Tugas

                Tugas, tugas dan tugas. Setiap hari saya –selaku mahasiswi– berkutat dengan tugas kuliah. “Tiada hari tanpa tugas” mungkin itu sebuah ungkapan yang cocok. Tidak sedikit mahasiswa/i yang mengeluh dengan tugas-tugas mereka, dan tidak sedikit pula yang bahkan memaki dosen yang memberi mereka tugas. Memang saya pun sesekali pernah mengeluh akan keribetan tugas-tugas yang ada, saya pikir ini manusiawi. Namun, bukan berarti kita dapat memaki dosen dengan kata-kata yang tidak baik. Bagaimanapun, dosen adalah pengajar kita, tugas mereka adalah mengajari kita dan memberi kita tugas sebagai media latihan. Begitupun dengan kita, kita adalah mahasiswa, mahasiswa tugasnya belajar (secara formal), jadi jika diberi tugas ya wajar. Kalau tidak mau banyak tugas ya jangan jadi mahasiswa, betul?
                Sering saya mendengar teman-teman yang begadang sampai dini hari untuk mengerjakan tugas yang biasanya diberi waktu satu pekan. Mata mereka sampai seperti mata panda, ada yang matanya seperti ini --__-- , ada pula yang matanya merah. Bukan hanya itu, badan mereka pun terlihat lemas tak bertenaga. Tapi selama ini saya tidak pernah begadang sampai dini hari. Saya selalu tidur sebelum jam 12 malam. Saya pun mengerjakan tugas, namun saya tidak ingin hanya karena tugas maka waktu istirahat –tidur– saya terganggu. Maka dari itu, ini lah beberapa tips dari saya yang biasanya saya lakukan untuk menyiasati waktu pengerjaan tugas agar tidak mengganggu jam istirahat.
1.       Catat detail tugas
Saat dosen menugaskan kita tugas, maka dengarkan dengan baik dan catat sedetail mungkin.
2.       Jangan tunda pekerjaan
Jika kita menunda pekerjaan/tugas, maka tugas kita akan semakin menumpuk, dan biasanya kita malas untuk mengerjakannya jika sudah menumpuk seperti itu.
3.        Membuat deadline lebih awal
Sebaiknya kita membuat batasan waktu kapan tugas kita harus beres, namun batasan waktu ini harus lebih awal dari waktu pengumpulannya. Misalnya tugas kita dikumpulkan pada hari Rabu, maka kita harus menyelesaikannya minimal pada hari Selasa, atau selesai pada hari Senin akan lebih baik.
4.       Mengerjakan tugas dengan gesit
Jika kita gesit dalam mengerjakan tugas, maka tugas pun akan cepat selesai.
5.       Do your best
Lakukan yang terbaik yang kita bisa. Mengerjakan tugas dengan cepat bukan berarti kita mengerjakannya dengan asal jadi juga, kan?
6.       Berpikir bahwa: Jika tugas selesai, maka kita bisa bersantai ria.
Itulah hal utama yang membuat saya ingin segera membereskan tugas. Saya ingin cepat-cepat santai. Jika sudah begitu, mau main atau jalan-jalan pun bisa *sekalian menghilangkan penat setelah berkutat dengan tugas*. Hehe
7.       Berpikir bahwa:, semuanya berjalan sesuai harapan
Jika tugas tepat waktu maka nilai pun baik-baik saja, jika nilai baik maka IP pun insyaAllah baik, jika IP baik, insyaAllah orang tua kita senang.
8.       Ingat pengorbanan orang tua
Kita harus sungguh-sungguh dalam belajar di dunia perkuliahan ini. Karena sebagaimana kita tau, orang tua kita telah banyak berkorban dan mengeluarkan berapa banyak uang untuk pendidikan kita. Bapak Pembantu Dekan III Fakultas Adab Humaniora pernah berkata: “Jika Ada kuliah lebih dari 4 tahun, maka Anda telah mengkhianati orang tua Anda!”. Jujur kata-kata ini selalu membuat airmata saya meleleh.

Untuk sementara ini, cukup sekian tips yang berdasar pada kebiasaan yang saya lakukan. Berhubung adzan Ashar berkumandang, maka mari kita salat J
14:52 //291012//

Heya!! :D It's me ..

Foto saya
Cianjur, Jawa Barat, Indonesia
I'm the type of an ordinary girl that has unique character. Quiet enough, not too noisy, sometimes moody, and I just speak proporsionally .. Love Ya :*