Saya adalah seseorang yang
memiliki akun Facebook dan Twitter sejak dari tahun 2009, saat saya
masih SMP. Di Facebook, dulu tombol “Like” tidak begitu populer, saya pun
cenderung bingung dengan fungsi “Like” tersebut. Namun kini, semakin banyak “Like”
maka si penulis post (status/foto/video dll) merasa semakin senang, mungkin bangga.
Tak jarang ada orang yang men-chat saya hanya untuk meminta agar saya me-like
statusnya. Saya juga melihat beberapa yang menulis wall to wall yang sekedar
mengatakan TFL dan meminta like balik, atau yang lebih mengganggu adalah komen dalam
status yang kurang lebih berbunyi “Saya menyukai status Anda. Mampirlah ke
status saya dan like back. SALKOMSEL”. “HADIR menyukai status Anda –saling berbagi
itu indah— <<SALKOMSEL>>”. Bukan hanya itu saja, ada komen yang
lebih mengesalkan, komen tersebut bisa menghabiskan 500 karakter dan isi dari
komen itu adalah nonsense, hanya nyampah. Jika saya membuka facebook dr
handphone dan melihat komen sampah itu, maka pegallah jempol saya terus menggeser
kursor ke bawah, bahkan jika sudah terlanjur membaca jauh, kembali ke atas pun
sama pegalnya. Ada yang lebih tidak masuk akal lagi, yaitu jika si penyuka
status tidak mendapat like balik, maka tak jarang orang itu marah, atau malah
berkomentar dengan bahasa kasar. Hellooooo??? Life is more than
Facebook!!! Pelis laaaah, hidup itu lebih dari Facebook!! Tidak ada hal
yang lebih penting lagi ya selain me-like status-status itu? Mending kalau
memang statusnya mengisnpirasi, nah kebanyakan statusnya itu malah status yang
tidak penting. Dan biasanya saya hanya me-like status yang memang benar-benar
saya sukai. Kalau pun ada orang yang meminta like saya dalam statusnya, maka
saya tidak begitu menurutinya. Jika dia marah ya silakan, mau me-remove saya
pun silakan. Saya tidak peduli dengan teman Facebook macam itu. Jadi intinya,
Hidup itu tidak melulu soal Facebook! Tidak melulu soal suka-menyukai status.
Ada satu lagi social media yang saya
cukup aktif di dalamnya, yaitu twitter. Ini pun sama, saya sering melihat beberapa
orang pengguna twitter begitu sibuk dengan hashtag #TEAMFOLLOWBACK #FOLLOWBACK yang
berkali-kali ditwitkan dan seabreg hashtag lainnya yang membuat timeline
serasa penuh sampah. Sekali lagi saya berkata: Helloooo?? Life is more
than twitter!! Pelis laaaah!! Hidup itu lebih dari twitter!! Jika followers
kita segitu adanya, ya segitu sajalah. Tidak usah memaksakan diri menambah
follower, saya pikir ini hal yang melelahkan diri sendiri. Soal follow-memfollow,
menurut saya ini soal kepentingan saja. Jika sekiranya kita merasa perlu memfollow
sebuah akun dan merasa twitnya berguna bagi kita, maka follow saja. Jika memang
kita tidak merasa perlu, ya tidak usah memfollow. As simple as that.
Bukan hanya itu, twit-twit yang ada
di twitter juga cenderung menyebabkan masalah. Terutama saat kita men-twit
atau me-retweet sebuah twit, tak jarang menimbulkan
kesalahpahaman. Saya rasa Anda pernah mengalaminya kan? Jadi saya rasa saya
tidak perlu menjelaskan ataupun memberi contoh.
Itulah beberapa masalah yang ada di
social media yang pernah saya alami. Jika ada yang memiliki pengalaman yang
lain, yang mungkin ingin berbagi, maka silakan tambahkan pengalaman Anda di
komen J. Kesimpulannya adalah Life is
more than Social Media! Hidup itu lebih dari Media Sosial! Hidup bukan
melulu tentang twitter, facebook dan yang lainnya. Yang lebih penting adalah
sosialisasi kita di kehidupan nyata. Sekian, semoga bermanfaat, terima kasih J
Facebook : Gemi A. Sumitra
Twitter : @GemiaMia
15:00 //301012//
