Sabtu, 03 November 2012

Lebaran

  Di kios kopi aya sababaraha urang nu keur ngarobrol.
Bapa-bapa      : “sok rudet ari nyanghareupan lebaran teh uing mah”
Bujang            : “na kunaon kitu Pa?”
Bapa-bapa      : “he’eh sok rudet, barudak jeung pamajikan teh sok hayang sagala anyar. Baju hayang anyar, sapatu anyar, sajabana we lah. Ari teu dicumponan sok maranyun. Naa ari urang nya hayang pamajikan anyar ge meni kukulutus bari popolotot ‘najiiiiiiiiiiiiiiiiss teuuiiing’ cenah , bari sagala ditajong deuih. Subhanallaah, bari urang mah mentana ge teu sataun sakali acan. Ampuuuuunnn !!”
Hahahaaaaa... 
(Landong Bete kedua yang tidak sempat dikirim ke majalah sekolah. Cerita ini saya dapat dari sms yang datang ke hp ibu saya, dengan perubahan seperlunya)

Piring Hajatan



                Komeng jeung Ningsih keur ngobrol
Ningsih           : “Meng, kunaon cing ari di hajatan atawa di parasmanan piringna teh sok lebar bari jeung bareurat?”
Komeng          : “He’eh nya bener sok bareurat piring di hajatan mah”
Ningsih           : “Nyaho teu kunaon??”
Komeng          : ”Kunaon emang?”
Ningsih           : “Sabab meh mawa sanguna saeutik, piringna ge geus beurat komo mun disanguan bari jeung sanguna loba. Satengah kilo leuwih aya meureun. Hahahahahaaaa ..”
Komeng          : “Hhahahaaa... Gelo si Ningsih mah ah !!”

(Landong Bete yang tidak sempat saya kirim ke majalah sekolah. heheh xD)

The Day You Went Away



"The Day You Went Away"
by M2M

Well I wonder could it be
When I was dreaming 'bout you baby
You were dreaming of me
Call me crazy, call me blind
To still be suffering is stupid after all of this time

Did I lose my love to someone better
And does she love you like I do
I do, you know I really really do

Well hey
So much I need to say
Been lonely since the day
The day you went away
So sad but true
For me there's only you
Been crying since the day
The day you went away

I remember date and time
September twenty second
Sunday twenty five after nine
In the doorway with your case
No longer shouting at each other
There were tears on our faces

And we were letting go of something special
Something we'll never have again
I know, I guess I really really know

The day you went away
The day you went away

Why do we never know what we've got 'til it's gone
How could I carry on
The day you went away
Cause I've been missing you so much I have to say
Been crying since the day
The day you went away

The day you went away
The day you went away

Selasa, 30 Oktober 2012

Life is more than Social Media (SocMed)


Saya adalah seseorang yang  memiliki akun Facebook dan Twitter sejak dari tahun 2009, saat saya masih SMP. Di Facebook, dulu tombol “Like” tidak begitu populer, saya pun cenderung bingung dengan fungsi “Like” tersebut. Namun kini, semakin banyak “Like” maka si penulis post (status/foto/video dll) merasa semakin senang, mungkin bangga. Tak jarang ada orang yang men-chat saya hanya untuk meminta agar saya me-like statusnya. Saya juga melihat beberapa yang menulis wall to wall yang sekedar mengatakan TFL dan meminta like balik, atau yang lebih mengganggu adalah komen dalam status yang kurang lebih berbunyi “Saya menyukai status Anda. Mampirlah ke status saya dan like back. SALKOMSEL”. “HADIR menyukai status Anda –saling berbagi itu indah— <<SALKOMSEL>>”. Bukan hanya itu saja, ada komen yang lebih mengesalkan, komen tersebut bisa menghabiskan 500 karakter dan isi dari komen itu adalah nonsense, hanya nyampah. Jika saya membuka facebook dr handphone dan melihat komen sampah itu, maka pegallah jempol saya terus menggeser kursor ke bawah, bahkan jika sudah terlanjur membaca jauh, kembali ke atas pun sama pegalnya. Ada yang lebih tidak masuk akal lagi, yaitu jika si penyuka status tidak mendapat like balik, maka tak jarang orang itu marah, atau malah berkomentar dengan bahasa kasar. Hellooooo??? Life is more than Facebook!!! Pelis laaaah, hidup itu lebih dari Facebook!! Tidak ada hal yang lebih penting lagi ya selain me-like status-status itu? Mending kalau memang statusnya mengisnpirasi, nah kebanyakan statusnya itu malah status yang tidak penting. Dan biasanya saya hanya me-like status yang memang benar-benar saya sukai. Kalau pun ada orang yang meminta like saya dalam statusnya, maka saya tidak begitu menurutinya. Jika dia marah ya silakan, mau me-remove saya pun silakan. Saya tidak peduli dengan teman Facebook macam itu. Jadi intinya, Hidup itu tidak melulu soal Facebook! Tidak melulu soal suka-menyukai status.
            Ada satu lagi social media yang saya cukup aktif di dalamnya, yaitu twitter. Ini pun sama, saya sering melihat beberapa orang pengguna twitter begitu sibuk dengan hashtag #TEAMFOLLOWBACK #FOLLOWBACK yang berkali-kali ditwitkan dan seabreg hashtag lainnya yang membuat timeline serasa penuh sampah. Sekali lagi saya berkata: Helloooo?? Life is more than twitter!! Pelis laaaah!! Hidup itu lebih dari twitter!! Jika followers kita segitu adanya, ya segitu sajalah. Tidak usah memaksakan diri menambah follower, saya pikir ini hal yang melelahkan diri sendiri. Soal follow-memfollow, menurut saya ini soal kepentingan saja. Jika sekiranya kita merasa perlu memfollow sebuah akun dan merasa twitnya berguna bagi kita, maka follow saja. Jika memang kita tidak merasa perlu, ya tidak usah memfollow. As simple as that.
            Bukan hanya itu, twit-twit yang ada di twitter juga cenderung menyebabkan masalah. Terutama saat kita men-twit atau me-retweet sebuah twit, tak jarang menimbulkan kesalahpahaman. Saya rasa Anda pernah mengalaminya kan? Jadi saya rasa saya tidak perlu menjelaskan ataupun memberi contoh.
            Itulah beberapa masalah yang ada di social media yang pernah saya alami. Jika ada yang memiliki pengalaman yang lain, yang mungkin ingin berbagi, maka silakan tambahkan pengalaman Anda di komen J. Kesimpulannya adalah Life is more than Social Media! Hidup itu lebih dari Media Sosial! Hidup bukan melulu tentang twitter, facebook dan yang lainnya. Yang lebih penting adalah sosialisasi kita di kehidupan nyata. Sekian, semoga bermanfaat, terima kasih J
Facebook      : Gemi A. Sumitra
Twitter          : @GemiaMia
15:00 //301012//

Esensi dari Mahasiswa adalah Tugas, Berkutat dengan Tugas

                Tugas, tugas dan tugas. Setiap hari saya –selaku mahasiswi– berkutat dengan tugas kuliah. “Tiada hari tanpa tugas” mungkin itu sebuah ungkapan yang cocok. Tidak sedikit mahasiswa/i yang mengeluh dengan tugas-tugas mereka, dan tidak sedikit pula yang bahkan memaki dosen yang memberi mereka tugas. Memang saya pun sesekali pernah mengeluh akan keribetan tugas-tugas yang ada, saya pikir ini manusiawi. Namun, bukan berarti kita dapat memaki dosen dengan kata-kata yang tidak baik. Bagaimanapun, dosen adalah pengajar kita, tugas mereka adalah mengajari kita dan memberi kita tugas sebagai media latihan. Begitupun dengan kita, kita adalah mahasiswa, mahasiswa tugasnya belajar (secara formal), jadi jika diberi tugas ya wajar. Kalau tidak mau banyak tugas ya jangan jadi mahasiswa, betul?
                Sering saya mendengar teman-teman yang begadang sampai dini hari untuk mengerjakan tugas yang biasanya diberi waktu satu pekan. Mata mereka sampai seperti mata panda, ada yang matanya seperti ini --__-- , ada pula yang matanya merah. Bukan hanya itu, badan mereka pun terlihat lemas tak bertenaga. Tapi selama ini saya tidak pernah begadang sampai dini hari. Saya selalu tidur sebelum jam 12 malam. Saya pun mengerjakan tugas, namun saya tidak ingin hanya karena tugas maka waktu istirahat –tidur– saya terganggu. Maka dari itu, ini lah beberapa tips dari saya yang biasanya saya lakukan untuk menyiasati waktu pengerjaan tugas agar tidak mengganggu jam istirahat.
1.       Catat detail tugas
Saat dosen menugaskan kita tugas, maka dengarkan dengan baik dan catat sedetail mungkin.
2.       Jangan tunda pekerjaan
Jika kita menunda pekerjaan/tugas, maka tugas kita akan semakin menumpuk, dan biasanya kita malas untuk mengerjakannya jika sudah menumpuk seperti itu.
3.        Membuat deadline lebih awal
Sebaiknya kita membuat batasan waktu kapan tugas kita harus beres, namun batasan waktu ini harus lebih awal dari waktu pengumpulannya. Misalnya tugas kita dikumpulkan pada hari Rabu, maka kita harus menyelesaikannya minimal pada hari Selasa, atau selesai pada hari Senin akan lebih baik.
4.       Mengerjakan tugas dengan gesit
Jika kita gesit dalam mengerjakan tugas, maka tugas pun akan cepat selesai.
5.       Do your best
Lakukan yang terbaik yang kita bisa. Mengerjakan tugas dengan cepat bukan berarti kita mengerjakannya dengan asal jadi juga, kan?
6.       Berpikir bahwa: Jika tugas selesai, maka kita bisa bersantai ria.
Itulah hal utama yang membuat saya ingin segera membereskan tugas. Saya ingin cepat-cepat santai. Jika sudah begitu, mau main atau jalan-jalan pun bisa *sekalian menghilangkan penat setelah berkutat dengan tugas*. Hehe
7.       Berpikir bahwa:, semuanya berjalan sesuai harapan
Jika tugas tepat waktu maka nilai pun baik-baik saja, jika nilai baik maka IP pun insyaAllah baik, jika IP baik, insyaAllah orang tua kita senang.
8.       Ingat pengorbanan orang tua
Kita harus sungguh-sungguh dalam belajar di dunia perkuliahan ini. Karena sebagaimana kita tau, orang tua kita telah banyak berkorban dan mengeluarkan berapa banyak uang untuk pendidikan kita. Bapak Pembantu Dekan III Fakultas Adab Humaniora pernah berkata: “Jika Ada kuliah lebih dari 4 tahun, maka Anda telah mengkhianati orang tua Anda!”. Jujur kata-kata ini selalu membuat airmata saya meleleh.

Untuk sementara ini, cukup sekian tips yang berdasar pada kebiasaan yang saya lakukan. Berhubung adzan Ashar berkumandang, maka mari kita salat J
14:52 //291012//

Sabtu, 15 September 2012

Menerobos Lampu Merah



Dear reader, berikut ini saya dapatkan sebuah kisah dari folder di laptop paman saya, beliau seorang guru, dan mendapatkan folder itu dari acara seminar yang ia ikuti. folders tersebut berisi file-file yang sangat bagus dan bermanfaat. Here is a story from there. Memang sih ini copy-paste, tapi saya pikir, jika copast demi kebaikan apa salahnya kan? Saya harap artikel ini dapat memberikan manfaat bagi Anda yang membaca.
Semoga bermanfaat :) Chek this out!

*** Menerobos Lampu Merah ***

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jack segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. "Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya sambil terus melaju.

Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu khan Bob, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.

"Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!"

"Hai, Jack." Tanpa senyum.

"Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah."
"Oh ya?" Tampaknya Bob agak ragu.
Nah, bagus kalau begitu. "Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong."
"Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini."
O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jack harus ganti strategi. "Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala." ... Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.
"Ayo dong Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu."
Dengan ketus Jack menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya.
Beberapa saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima
centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.

Jack mengambil surat tilang yang diselipkan Bob di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jack membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bob.

"Halo Jack, Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos
lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bob)."

Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

... Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.


Selasa, 07 Agustus 2012

Negeri Bawah Tanah Nobita : Nobita Phobia Sekolah


Sabtu pagi 22 Juli 2012
Pagi itu gue nonton tv, gak sengaja gue mampir ke channel yang ada kartunnya. Waktu itu “Crayon Shinchan” lagi tayang, Sinchan udahan selanjutnya ada “Doraemon” deh. Gue tonton deh tuh, daripada pagi-pagi nonton gosip kan gaje.haha
Judul episodenya adalah ‘Negeri Bawah tanah Nobita’
Jadi ceritanya si Nobita lagi ngegali tanah buat nguburin kertas ulangan dia yang nilainya 0. *haha.. tau dong Nobita dicitrakan sebagai anak yang malas*. Nah pas ngegali tanah itu, si Nobita malah nemu kayak gua/goa gitu *dibacanya bukan ‘gue’*. Nah di situlah awal cerita Negeri Bawah Tanah Nobita. Jadi ceritanya di bawah tanah itu terhampar daratan yang luas, diliat2 sih kayak Sandiego Hills gitu *haha makam. Nah langsung aja deh ke bagian yang bikin gue sama ade gue yang SD ngakak. Ini dia niiiihh.....
Doraemon:  waaahh,, kita bisa bikin kota di sini. Negara juga bisa.
Giant: aku mau bangun lapangan baseball di siniii...   \(´`)/
Suneo: aku mau bangun radio
Sizuka: aku mau membuat taman yang penuh dg bungaaa *mata berbinar* (maklum cewe.haha)
Nobita: aaaahh terserah kalian mau bangun apa di sini. Asal jangan bangun SEKOLAH!!!
Gue dan Ade gue: hiyaaahahaaaa~ *gubrak* LOL!! *ngakak*
DASAR NOBITA. Huaahahahaaaa
phobia banget ama sekolah. wakakakak

Catatan:
Mohon maaf jika ada kesamaan perilaku, apalagi ceritanya yg gak masuk akal. Namanya juga film. huahahhaaa

Heya!! :D It's me ..

Foto saya
Cianjur, Jawa Barat, Indonesia
I'm the type of an ordinary girl that has unique character. Quiet enough, not too noisy, sometimes moody, and I just speak proporsionally .. Love Ya :*