Dear reader, berikut ini saya dapatkan sebuah kisah dari folder di laptop paman saya, beliau seorang guru, dan mendapatkan folder itu dari acara seminar yang ia ikuti. folders tersebut berisi file-file yang sangat bagus dan bermanfaat. Here is a story from there. Memang sih ini copy-paste, tapi saya pikir, jika copast demi kebaikan apa salahnya kan? Saya harap artikel ini dapat memberikan manfaat bagi Anda yang membaca.
Semoga bermanfaat :) Chek this out!
Semoga bermanfaat :) Chek this out!
*** Menerobos
Lampu Merah ***
Dari kejauhan,
lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jack segera menekan
pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di
situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan
jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jack berdebar
berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan,
lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. "Ah,
aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya sambil
terus melaju.
Prit! Di
seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jack
menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion
ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu khan Bob,
teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega. Ia melompat keluar sambil
membuka kedua lengannya.
"Hai, Bob.
Senang sekali ketemu kamu lagi!"
"Hai,
Jack." Tanpa senyum.
"Duh,
sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang
menunggu di rumah."
"Oh
ya?" Tampaknya Bob agak ragu.
Nah, bagus kalau
begitu. "Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah
menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong."
"Saya
mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di
persimpangan ini."
O-o, sepertinya
tidak sesuai dengan harapan. Jack harus ganti strategi. "Jadi, kamu hendak
menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat
lampu kuning masih menyala." ... Aha, terkadang berdusta sedikit bisa
memperlancar keadaan.
"Ayo dong
Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu."
Dengan ketus
Jack menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca
jendelanya. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya.
Beberapa saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima
centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.
Beberapa saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima
centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.
Jack mengambil
surat tilang yang diselipkan Bob di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini.
Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku.
Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jack membuka dan membaca
nota yang berisi tulisan tangan Bob.
"Halo Jack,
Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah
meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos
lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bob)."
lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bob)."
Jack terhenyak.
Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos
jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati
tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.
... Tak
selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi
suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah
dengan penuh hati-hati.
