Sebagai
rembulan, wajahmu tercermin di bola mataku[1]. Senyum itu, senyum yang takkan pernah aku
miliki, masih terus menggenangi mataku. Malam menyisakan ruang untuk kita
bertemu, walau bertemu hanya lewat kata-kata.
“Percakapan
ini seperti mengandung kafein.” Kau
selalu menahanku untuk tertidur sebelum jam 12 malam.
“Karena
itulah, percakapan kita selalu memiliki zat adiktif, yang membuahkan
ketagihan.”
“Sekaligus
berbahaya jika terus dilakukan.”
“Berbahaya
jika dikonsumsi setiap detik, setiap menit dan setiap jam. Bila dikonsumsi
secara tepat, akan menguatkan lambung.”
“Setiap
hari pun berbahaya, kukira. Sudah tepat? Kekuatan lambung orang berbeda-beda.”
“Tidak
berbahaya jika tanpa gula.”
“Maka,
aku akan menjadi kopi, tanpa gula.”
“Ya,
dan aku akan menjelma gula alami, yang tetap menyehatkan ketika dicampur dengan
kopi yang pahit. Agar dunia tetap seimbang.”
Nampaknya
kau tak mengerti maksud pembicaraanku, aku akan menjadi kopi tanpa gula. Aku
takkan bermanis-manis lagi kepadamu. Aku takkan senyum kepadamu lagi. Itu yang
kumaksud, tapi kau menangkapnya berbeda. Tapi percuma mengungkapkan maksudku,
itu sama saja aku mendebatmu, dan aku pasti akan kalah. Kau lebih berpengalaman
dariku, sudah mengetahui banyak hal dibanding aku, di situ, aku akan kalah.
“Kelanjutan
analogi kopi-gula ini tak bisa kuteruskan di sini. Cukup kuteruskan sendiri.”
“Ya,
dan aku pun punya terusannya, sendiri. Tak ada seorang pun yang bisa menolak,
jika suatu waktu, tiba-tiba dua terusan cerita dan analogi kopi-gula yang
berbeda itu bertemu di satu persimpangan.... yang mengharuskan mereka untuk bersatu.”
“.....”
“karena
jalan yang harus dilalui setelah simpangan itu, terlalu terjal dan berliku,
jika hanya kopi yang melalui, atau jika hanya gula yang melewati... kopi senang
bertemu gula (lagi) karena kopi akhirnya sadar, perlu gula yang memaniskan
hidup dan gula pun senang bertemu kopi (lagi) karena gula juga sadar, harus ada
yang pahit untuk membuat dirinya disebut manis.”
“Malam
telah larut. Seperti aku yang larut dalam air panas di cangkir yang dingin.
Yang membuatku tiada. Aku harus larut bersama malam. Daaah..”
“Aku
juga sebentar lagi... akan larut dalam malammu.”
“Takkan
bisa.”
“Pasti
bisa. Karena gula akan selalu larut dalam air apapun. Apalagi malam, dimana gula
akan selalu disebar dan dilarutkan untuk memaniskan mimpi..”
“Tapi
untukku tak bisa. Dan mimpi tidak semanis itu.”
“Pasti
bisa. Karena mimpi yang tak manis pun, bukan berarti tanpa gula, itu
semata-mata untuk memastikan bahwa mimpi yang kelewat manis hanya impian
kosong.”
Kau
terus bersikeras dengan pendirianmu. Inilah salah satu yang membuatku malas
untuk berdebat. Aku pasti kalah. Bagaimanapun. Karena aku tak punya banyak
pengalaman untuk mendebatmu. Berdebat denganmu membuatku sakit kepala.
“Ya,
kosong.” Jawabku.
“Maka
dari itu, mimpi terkadang tak semanis yang diharapkan. Dan sekali lagi itu
bukan berarti tanpa gula.”
Aku
kehabisan kata untuk mendebatmu.
“Ah,
diabetes lama-lama. Gula dan janji sama-sama manis.”
“Diabetes
itu bukan berarti tidak boleh mengonsumsi gula. Karena gula sebetulnya sudah
ada dimana-mana. Nasi mengandung gula, jagung mengandung gula, kelapa
mengandung gula, dan lain-lain.”
“Iya,
aku tahu. Aku hanya terlalu penat untuk berpikir malam ini. Sakit kepala.”
“Oleh
karena itu tidurlah. Larutlah dalam malammu segera, agar aku juga bisa larut
dalam malammu. Sesegera mungkin.”
Dan
kau, tidak larut dalam malamku. Semalam.
***
Malam
selalu menyisakan ruang untuk kita bercakap-cakap melalui dunia maya.Semaya
dirimu.
“Foto
profilmu cantik. Seperti Arab-India gitu.” Kau mengomentari foto profilku
ketika kukenakan pakaian kebaya saat wisuda. Aku senang kau bilang cantik.
“Apa
yang kau maksudkan dengan cantik?”
“Pertanyaan
yang tidak sesederhana jawabannya. Hehe..”
“Jadi?
Hihi..”
“Cantik
adalah sebuah kata sifat yang terdiri atas C A N T I K dan digunakan untuk
menjelaskan kekaguman atas sesuatu hal yang berhubungan dengan keindahan.
Biasanya keindahan itu ada dalam diri perempuan.”
“Aku
jadi ingat percakapan Minke dan Robert dalam Bumi Manusia.“Apa yang kau
maksudkan dengan cantik?” “Apa? Kau kan sendiri sudah rumuskan? Letak dan
bentuk tulang yang tepat, diikat oleh lapisan daging yang tepat pula.””
“Percakapan
Minke dan Robert Suurhof ketika mendeskripsikan Annelies Mellema? Itu definisi
yang terlalu fisikal, Ka.”
“Justru
kukira itu definisiyang netral. Semua bisa jadi cantik.”
“Kata
sifat tidak ada yang netral.” Katamu.
Aku
mulai susah menggunakan kata-kata untuk menjelaskan pemahamanku tentang itu.
“Aduh,
bagaimana ya, aku susah menjelaskannya. Jadi, cantik itu tidak harus hidung
mancung, mata indah, atau yang lainnya.” Kukira.
“Tuh
kan, kau sendiri susah menjelaskannya. Justru yang dimaksudkan bentuk tulang
yang tepat itu ya tulang hidung yang mancung dibalut kulit yang tepat. Kulit
yang putih atau kuning langsat.”
Aku
kehabisan kata. Jadi, itu yang dimaksudkan cantik dalam Percakapan Minke dan
Robert Suurhof? Yang kudapat, pemikiranku tentang itu, justru Tuhan telah
memberikan tulang dan kulit yang tepat kepada semua makhluknya, itu sudah kadarnya.
Tapi pemahamanku itu sulit kukemukakan kepadamu, aku sulit menyusun kata-kata.
Terbukti kan? Berdebat denganmu membuatku kalah, membuatku sedikit minder. Ya,
aku kalah.
“Oh,
begitu. Berarti aku salah memahami definisi cantik dalam bumi Manusia itu.”
“Aku
punya ungkapan yang mungkin itu diriku sendiri, dan aku mengutipnya dari sebuah
cerpen.”
“Ungkapan
apa? Jangan-jangan kau narsis sendiri dengan ungkapan itu? Hehe..”
“Bukan
kok. Hehe.. “Aku tidak akan tertarik kepada bidadari yang dungu.””
“Jadi?
Apa maksud dari kutipan itu?”
“Kau
bisa menfsirkannya sendiri.”
“Aku
takut salah menafsirkan lagi. Jadi aku dungu?”
“Justru
sebaliknya. Kamu tidak dungu. Jadi aku tertarik. Hehe “
Tuhan,
apa yang aku dapati sekarang? Dia bilang dia tertarik kepadaku? Mana mungkin.
Mana bisa. Dia sudah dengan yang lain. Sadar Tika! Sadaaaar!!
“Ah,
tapi aku sudah merasa dungu dengan ketidaktepatan menafsirkan definisi cantik
dari Bumi Manusia itu. Hiks.”
“Tidak,
kau tidak dungu. Yang begitu itu bukan dungu, tapi penasaran. Penasaran atas
keyakinan diri. Yang dungu itu justru yang tidak punya keyakinan diri.”
“Aku
tidak mengerti.” Aku merasa dungu. “Keyakinanku apa? (Yang kautangkap)”
“Nanti
juga kau mengerti, kok.”
“Tuh
kan, aku tidak mengerti, merasa dungu nih.”
“Keyakinan
akan penafsiran kamu terhadap definisi itu. Kamu yakin, dan itu bagus. Ah, jadi
gak seru ah. Kamu-nya merendah begitu : (“
“Yakin
tapi tidak tepat. Bertahan dengan penafsiran yang salah:( sedihhh. Iya iya, aku
meninggi deh..”
“Jangan
merendah. Kayak tadi dong. Siapa bilang juga penafsiranku tepat? Bisa
jadi tidak. Hanya aku yakinkan saja begitu.”
“aku
yang menganggapnya begitu.”
“dan
ketika kamu menganggapnya begitu, berarti kamu tidak dungu, karena paham apa
yang aku terangkan.”
“Cukup,
kau tidak perlu membesarkan hatiku lagi. (Ini
lebay) hehe..” aku sedikit becanda, agar tidak terlalu kaku.
Ya,
memang tidak ada benar dan salah dalam sastra. Yang ada hanya ngacau.
***
Selain
malam yang selalu menyisakan ruang untuk kita bercakap-cakap lewat dunia maya,
siang pun masih bersedia menyediakan sudut tempat kita beradu mata, lalu
bertukar senyum.
Kau
muncul dari kerumunan mahasiswa yang berlalu lalang.Kau muncul dari lantai
bawah, menaiki tangga.
Di sini, ada aku yang menunggumu. Kita bertemu di
persimpangan rindu.
Mata kita beradu, lalu kita bertukar senyum. Senyummu yang takkan bisa kumiliki, selamanya.
Mata kita beradu, lalu kita bertukar senyum. Senyummu yang takkan bisa kumiliki, selamanya.
Mungkin hanya tiga detik.
: detik pertama kita beradu mata,
detik kedua kita bertukar senyum,
detik ketiga kita pergi ke arah yang berbeda.
: detik pertama kita beradu mata,
detik kedua kita bertukar senyum,
detik ketiga kita pergi ke arah yang berbeda.
![]() |
| Source: www.forwallpaper.com |
[1] Penggalan sajak, baris pertama, dari Wening Wahyuningsih “Sepucuk
Pesan Buat Rembulan”. Sajak Kakilangit 131/2007, Majalah Horison.


Lalalaaa~
BalasHapusEuweuh nu komen. Aaaaakkk >,<
Capek baca na.....hahaha
BalasHapus