Minggu, 16 Maret 2014

Rembulan di Mataku


Sebagai rembulan, wajahmu tercermin di bola mataku[1]. Senyum itu, senyum yang takkan pernah aku miliki, masih terus menggenangi mataku. Malam menyisakan ruang untuk kita bertemu, walau bertemu hanya lewat kata-kata.
“Percakapan ini  seperti mengandung kafein.” Kau selalu menahanku untuk tertidur sebelum jam 12 malam.
“Karena itulah, percakapan kita selalu memiliki zat adiktif, yang membuahkan ketagihan.”
“Sekaligus berbahaya jika terus dilakukan.”
“Berbahaya jika dikonsumsi setiap detik, setiap menit dan setiap jam. Bila dikonsumsi secara tepat, akan menguatkan lambung.”
“Setiap hari pun berbahaya, kukira. Sudah tepat? Kekuatan lambung orang berbeda-beda.”
“Tidak berbahaya jika tanpa gula.”
“Maka, aku akan menjadi kopi, tanpa gula.”
“Ya, dan aku akan menjelma gula alami, yang tetap menyehatkan ketika dicampur dengan kopi yang pahit. Agar dunia tetap seimbang.”
Nampaknya kau tak mengerti maksud pembicaraanku, aku akan menjadi kopi tanpa gula. Aku takkan bermanis-manis lagi kepadamu. Aku takkan senyum kepadamu lagi. Itu yang kumaksud, tapi kau menangkapnya berbeda. Tapi percuma mengungkapkan maksudku, itu sama saja aku mendebatmu, dan aku pasti akan kalah. Kau lebih berpengalaman dariku, sudah mengetahui banyak hal dibanding aku, di situ, aku akan kalah.
“Kelanjutan analogi kopi-gula ini tak bisa kuteruskan di sini. Cukup kuteruskan sendiri.”
“Ya, dan aku pun punya terusannya, sendiri. Tak ada seorang pun yang bisa menolak, jika suatu waktu, tiba-tiba dua terusan cerita dan analogi kopi-gula yang berbeda itu bertemu di satu persimpangan.... yang  mengharuskan mereka untuk bersatu.”
“.....”
“karena jalan yang harus dilalui setelah simpangan itu, terlalu terjal dan berliku, jika hanya kopi yang melalui, atau jika hanya gula yang melewati... kopi senang bertemu gula (lagi) karena kopi akhirnya sadar, perlu gula yang memaniskan hidup dan gula pun senang bertemu kopi (lagi) karena gula juga sadar, harus ada yang pahit untuk membuat dirinya disebut manis.”
“Malam telah larut. Seperti aku yang larut dalam air panas di cangkir yang dingin. Yang membuatku tiada. Aku harus larut bersama malam. Daaah..”
“Aku juga sebentar lagi... akan larut dalam malammu.”
“Takkan bisa.”
“Pasti bisa. Karena gula akan selalu larut dalam air apapun. Apalagi malam, dimana gula akan selalu disebar dan dilarutkan untuk memaniskan mimpi..”
“Tapi untukku tak bisa. Dan mimpi tidak semanis itu.”
“Pasti bisa. Karena mimpi yang tak manis pun, bukan berarti tanpa gula, itu semata-mata untuk memastikan bahwa mimpi yang kelewat manis hanya impian kosong.”
Kau terus bersikeras dengan pendirianmu. Inilah salah satu yang membuatku malas untuk berdebat. Aku pasti kalah. Bagaimanapun. Karena aku tak punya banyak pengalaman untuk mendebatmu. Berdebat denganmu membuatku sakit kepala.
“Ya, kosong.” Jawabku.
“Maka dari itu, mimpi terkadang tak semanis yang diharapkan. Dan sekali lagi itu bukan berarti tanpa gula.”
Aku kehabisan kata untuk mendebatmu.
“Ah, diabetes lama-lama. Gula dan janji sama-sama manis.”
“Diabetes itu bukan berarti tidak boleh mengonsumsi gula. Karena gula sebetulnya sudah ada dimana-mana. Nasi mengandung gula, jagung mengandung gula, kelapa mengandung gula, dan lain-lain.”
“Iya, aku tahu. Aku hanya terlalu penat untuk berpikir malam ini. Sakit kepala.”
“Oleh karena itu tidurlah. Larutlah dalam malammu segera, agar aku juga bisa larut dalam malammu. Sesegera mungkin.”
Dan kau, tidak larut dalam malamku. Semalam.
***
Malam selalu menyisakan ruang untuk kita bercakap-cakap melalui dunia maya.Semaya dirimu.
“Foto profilmu cantik. Seperti Arab-India gitu.” Kau mengomentari foto profilku ketika kukenakan pakaian kebaya saat wisuda. Aku senang kau bilang cantik.
“Apa yang kau maksudkan dengan cantik?”
“Pertanyaan yang tidak sesederhana jawabannya. Hehe..”
“Jadi? Hihi..”
“Cantik adalah sebuah kata sifat yang terdiri atas C A N T I K dan digunakan untuk menjelaskan kekaguman atas sesuatu hal yang berhubungan dengan keindahan. Biasanya keindahan itu ada dalam diri perempuan.”
“Aku jadi ingat percakapan Minke dan Robert dalam Bumi Manusia.“Apa yang kau maksudkan dengan cantik?” “Apa? Kau kan sendiri sudah rumuskan? Letak dan bentuk tulang yang tepat, diikat oleh lapisan daging yang tepat pula.”
“Percakapan Minke dan Robert Suurhof ketika mendeskripsikan Annelies Mellema? Itu definisi yang terlalu fisikal, Ka.”
“Justru kukira itu definisiyang netral. Semua bisa jadi cantik.”
“Kata sifat tidak ada yang netral.” Katamu.
Aku mulai susah menggunakan kata-kata untuk menjelaskan pemahamanku tentang itu.
“Aduh, bagaimana ya, aku susah menjelaskannya. Jadi, cantik itu tidak harus hidung mancung, mata indah, atau yang lainnya.” Kukira.
“Tuh kan, kau sendiri susah menjelaskannya. Justru yang dimaksudkan bentuk tulang yang tepat itu ya tulang hidung yang mancung dibalut kulit yang tepat. Kulit yang putih atau kuning langsat.”
Aku kehabisan kata. Jadi, itu yang dimaksudkan cantik dalam Percakapan Minke dan Robert Suurhof? Yang kudapat, pemikiranku tentang itu, justru Tuhan telah memberikan tulang dan kulit yang tepat kepada semua makhluknya, itu sudah kadarnya. Tapi pemahamanku itu sulit kukemukakan kepadamu, aku sulit menyusun kata-kata. Terbukti kan? Berdebat denganmu membuatku kalah, membuatku sedikit minder. Ya, aku kalah.
“Oh, begitu. Berarti aku salah memahami definisi cantik dalam bumi Manusia itu.”
“Aku punya ungkapan yang mungkin itu diriku sendiri, dan aku mengutipnya dari sebuah cerpen.”
“Ungkapan apa? Jangan-jangan kau narsis sendiri dengan ungkapan itu? Hehe..”
“Bukan kok. Hehe.. “Aku tidak akan tertarik kepada bidadari yang dungu.”
“Jadi? Apa maksud dari kutipan itu?”
“Kau bisa menfsirkannya sendiri.”
“Aku takut salah menafsirkan lagi. Jadi aku dungu?”
“Justru sebaliknya. Kamu tidak dungu. Jadi aku tertarik. Hehe “
Tuhan, apa yang aku dapati sekarang? Dia bilang dia tertarik kepadaku? Mana mungkin. Mana bisa. Dia sudah dengan yang lain. Sadar Tika! Sadaaaar!!
“Ah, tapi aku sudah merasa dungu dengan ketidaktepatan menafsirkan definisi cantik dari Bumi Manusia itu. Hiks.”
“Tidak, kau tidak dungu. Yang begitu itu bukan dungu, tapi penasaran. Penasaran atas keyakinan diri. Yang dungu itu justru yang tidak punya keyakinan diri.”
“Aku tidak mengerti.” Aku merasa dungu. “Keyakinanku apa? (Yang kautangkap)”
“Nanti juga kau mengerti, kok.”
“Tuh kan, aku tidak mengerti, merasa dungu nih.”
“Keyakinan akan penafsiran kamu terhadap definisi itu. Kamu yakin, dan itu bagus. Ah, jadi gak seru ah. Kamu-nya merendah begitu : (“
“Yakin tapi tidak tepat. Bertahan dengan penafsiran yang salah:( sedihhh. Iya iya, aku meninggi deh..”
“Jangan merendah. Kayak tadi dong. Siapa bilang juga penafsiranku tepat? Bisa jadi tidak. Hanya aku yakinkan saja begitu.”
“aku yang menganggapnya begitu.”
“dan ketika kamu menganggapnya begitu, berarti kamu tidak dungu, karena paham apa yang aku terangkan.”
“Cukup, kau tidak perlu membesarkan hatiku lagi. (Ini lebay) hehe..” aku sedikit becanda, agar tidak terlalu kaku.
Ya, memang tidak ada benar dan salah dalam sastra. Yang ada hanya ngacau.
***
Selain malam yang selalu menyisakan ruang untuk kita bercakap-cakap lewat dunia maya, siang pun masih bersedia menyediakan sudut tempat kita beradu mata, lalu bertukar senyum.
Kau muncul dari kerumunan mahasiswa yang berlalu lalang.Kau muncul dari lantai bawah, menaiki tangga.
Di sini, ada aku yang menunggumu. Kita bertemu di persimpangan rindu.
Mata kita beradu, lalu kita bertukar senyum. Senyummu yang takkan bisa kumiliki, selamanya.
Mungkin hanya tiga detik.
: detik pertama kita beradu mata,
  detik kedua kita bertukar senyum,
  detik ketiga kita pergi ke arah yang berbeda.

Sebagai rembulan kau tercermin di bola mataku,
bola mata si pungguk.

Source: www.forwallpaper.com


[1] Penggalan sajak, baris pertama, dari Wening Wahyuningsih “Sepucuk Pesan Buat Rembulan”. Sajak Kakilangit 131/2007, Majalah Horison.

2 komentar:

Heya!! :D It's me ..

Foto saya
Cianjur, Jawa Barat, Indonesia
I'm the type of an ordinary girl that has unique character. Quiet enough, not too noisy, sometimes moody, and I just speak proporsionally .. Love Ya :*