Sore. Pulang kuliah. Sepuluh menit lagi Maghrib. Aku lapar
juga lelah. Ya, namanya juga kuliah. Jangan mengeluh, ya? Iya.
Saat adzan berkumandang, berwudhulah aku, lalu salat magrib.
Tiga rakaat, jangan lebih, jangan juga kurang. Aku lupa, sesudah itu aku ngaji
tidak ya? Ya sudahlah, anggap saja aku lupa, jadi tidak ngaji, jadi tidak riya.
Kemudian aku pakai jaket. Jaket apa sweater ya yang benar? Ya itulah pokoknya.
Soalnya sore itu aku pakai baju piyama, masa mau keluar kostan pake piyama?
Yang lain juga suka begitu sih, piyama party di jalanan. Ya, maka aku menutupi
sebagian piyamaku dengan jaket itu. Jaket dengan merk Peter Says Denim,
clothing/distro Bandung, not made in China. Cinta produk lokal-lah. Lagipula
itu bukan sweaterku. Itu sweater mantan pacarku, si Ojan. Waktu itu, waktu
nyaris putus, aku bilang ke dia lewat sms: “Ini jaketmu ada di aku.” Maksudnya
kusuruh dia ambil ini jaket, di kostanku juga hanya memenuhi ruangan dan kalau
digantung malah jadi pos kamlingnya nyamuk-nyamuk. Tapi dia malah balas: “Aku
gak butuh jaket, aku butuhnya kamu.” Nyekilnya bisaan memang cowok satu ini.
Ya, kupakai jaketnya yang longgar itu. Tanganku saja sampai
tak nampak, tertelan jaketnya yang longgar. Dia gemuk sih. Aku menuruni Jalan
Desa Cipadung, menuju ke pinggir jalan raya, mau beli soto. Dulu aku makan soto
di sana dengan dia. Sekarang tidak, kan sudah putus.
Tiba-tiba aku serasa menjadi seorang ‘aku’ dalam
sinetron-sinetron melankoli. Jalan di malam hari, sendiri, dengan tatapan
kosong, perut yang lapar... ah, cukup dramatisasinya! Ini cerita sudah
ku-forward faster. Tibalah aku di warung soto. Di sana, ada sepasang merpati
sedang menunggu soto disajikan. Oh Tuhaaaan, kapan aku jadi merpati lagi? Ah,
kini aku hanya si pungguk yang merindukan bulan di mangkok soto.
2 Maret 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar