Suatu malam, aku tiduran di kamar adikku, di Cianjur sana.
Kurasa ada yang merayap di tubuhku, aku lupa, mungkin merayap di leherku, dan
kutangkap sesuatu yang merayap itu, dan itu semut. Sudah mati karena aku
menyentuhnya, padahal aku tidak memukulnya, aku kan gadis yang lembut. Maafkan
aku! :(
Kemudian kutelusuri darimana ia berasal. Kawan-kawannya
sedang berjejer di dinding kamar adikku itu, berdekatan dengan kepalaku. Aku
pengangguran waktu itu, maka kuperhatikan mereka sebagai pekerjaan baruku.
Mereka beramai-ramai mengadakan perjalanan. Dengan pola
jalan berkelok seperti rambut nenekku. Dari observasiku, aku jadi
bertanya-tanya. Mengapa semut selalu beradu jika bertemu. Bersalamankah mereka?
Atau cipika-cipiki? Atau ngapain? Ah aku gak tau. Semoga mereka adalah mahram,
sehingga boleh untuk bersalaman dan cipika-cipiki.
Selain dari itu, kulihat juga beberapa dari mereka
menggotong makanan. Entah darimana mereka mendapatkannya. Aduh, rasanya aku
ingin membantu mereka. Tapi ketika aku berniat membantu mengangkut makanan
mereka yang sebesar garam itu, mereka malah kabur. Aku menghancurkannya. Maaf
ya :(
Karena rasa bersalahku, maka terlintas ide untuk berderma
kepada mereka. Aku ingin memberi mereka makan. Tapi apa ya? Makanan favorit
mereka apa sih?
Ya, kuberikan saja yang ada. Tadinya aku mau ngasih mereka
upil, tapi hidungku sudah bersih. Gak ada upilnya. Maka aku menyeka mataku yang
indah ini, dan aku dapat belek. Nah, kuberikan saja belekku kepada mereka.
“Ini, ada rezeki untuk kalian, semut!”
Kalian pasti suka, sebab belekku manis, karena keluar dari mata
gadis yang manis juga.
Dan mereka menerimanya dengan senang hati, mereka mengangkut
si belek dengan gotong-royong. Senangnya aku!
Ah, selesai sudah pekerjaanku. Aku keluar kamar, lalu mamaku
bertanya.
“Abis ngapain di kamar?”
“Maraban sireum, Mah.” Itu bahasa Indonesianya “Ngasih makan
semut, Mah.”
Semut itu makhluk Tuhan juga, berdermalah, berbagilah kepada
mereka. Sekian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar